Agar ISM Menjadi Lembaga Pembelajar

Studi banding yang dilakukan oleh ISM yang masih tumbuh ke ISM yang sudah berkembang merupakan satu kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan pembelajaran organisasi. Para peserta studi banding dapat menilai, mengevaluasi dan mengelaborasi faktor yang mendukung akan terbentuknya lembaga ISM yang pembelajar.

Dalam siklus belajar untuk orang dewasa dikenal istilah refleksi. Refleksi merupakan suatu kegiatan yang dihasilkan dari kejadian yang sudah terjadi dalam diri atau terjadi pada orang lain, yang bisa diambil pembelajarannya sehingga menjadi pengetahuan baru yang berdampak pada perubahan diri.

Begitupun dengan lembaga lokal yang dikenal dengan sebutan Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) yang dikembangkan pada setiap proses program pendampingan Masyarakat Mandiri. Sebentuk lembaga yang harus terus melakukan refleksi dari seluruh kegiatan yang dikembangkan oleh pendamping, pengurus ISM dan kelompok-kelompok di dalamnya. Proses refleksi ini menjadikan ISM sebagai organisasi pembelajar (learning organization) dan pengelolaan pengetahuan (knowledge managemenet).

Knowledge Management adalah pondasi untuk terjadinya organisasi pembelajar. Knowledge Management merupakan alat untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran organisasi karena di dalamnya terjadi proses sistematis di mana pengetahuan diperlukan oleh sebuah organisasi. Di dalam Knowledge Management terjadi proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh, lalu disaring, dibagikan, lalu disimpan, kemudian didapatkan kembali hal baru dan selanjutnya dapat dipergunakan. Sedangkan Learning Organization menghasilkan adanya Knowledge Management.

Studi banding yang dilakukan oleh ISM yang masih tumbuh seperti ISM Subur Jaya Cikoneng, ISM Mandiri Barokah Kuningan, ISM Sigi Madani Situ Gintung, dan ISM Cipinang ke ISM yang sudah berkembang seperti ISM Buana Jaya, ISM Muara dan ISM UMMI Cianjur merupakan satu kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan pembelajaran organisasi. Para peserta studi banding dapat menilai, mengevaluasi dan mengelaborasi faktor yang mendukung akan terbentuknya lembaga ISM yang pembelajar. Para pembelajar bisa melihat karakter budaya organisasi yang dibangun di masing-masing ISM sudah berkembang. Mereka dapat mengumpulkan pengalaman internal ISM yang menjadi tempat studi banding. Selain itu, para pengawal lembaga perekonomian di daerahnya itu dapat mengevaluasi sistem-sistem organisasi ISM, selanjutnya mampu mengevaluasi cara untuk mengambil keputusan di masing-masing ISM.

Dalam perkembangannya ISM yang sudah “berkembang” memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik yang berbeda-beda inilah yang akan membawa pengetahuan baru bagi ISM yang baru tumbuh untuk mencari bentuk ISM nantinya. Ketika mereka studi banding ke Buana Jaya Kabupaten Bogor, mereka bisa menimba pengetahuan dan pengalaman dari pengurus ISM yang cukup dipercaya berbagai pihak. Pembelajar bisa melihat awalnya koperasi itu kurang mahir dalam mengelola organisasi koperasi, sejalan berkembangnya waktu pembelajaran yang bisa diambil, mereka bisa kembangkan pola hubungan kerjasama dengan Bank Syariah Mandiri untuk mengelola program DBS (Dana Bergulir Syariah) dengan tingkat kolektabilitas “macet” hanya 4%, dan volume pembiayaan DBS 60%.

Ketika studi banding ke ISM UMMI Cianjur, pembelajaran yang diambil yaitu meningkatnya pengembangan anggota layanan pembiayaan usaha masyarakat sampai kecamatan kota dengan pola kepercayaan dan jaringan kelompok sehingga jumlah anggota layanan sudah mencapai sekitar 170 orang. Begitupun ketika berkunjung ke ISM Muara, hal yang menjadi pembelajaran adalah proses kesederhanaan dan ketekunan para pengurus ISM dalam mengelola lembaga ekonomi sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat umum.

Bentuk atau format yang sudah ada di masing-masing ISM “Berkembang” inilah yang dapat diambil dan dimodifikasi oleh ISM yang baru tumbuh. Jika dievaluasi, perbedaan bentukan ISM lebih dipengaruhi oleh norma lokal, budaya organisasi yang dibangun oleh pengurus dan faktor optimisme untuk lebih maju dan berkembang dalam menjalankan ISM.

Dampak yang didapatkan bagi ISM yang masih tumbuh dari studi banding adalah sejauh mana mereka bisa menyerap pengetahuan baru dari ISM yang berkembang, dan nantinya diaplikasikan sesuai dengan kondisi sikap, karakter pengurus dan keinginan untuk maju ISM itu sendiri.

Diposting oleh Ahsin Aligori

{fcomment}

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Tentang Kami

Karya Masyarakat Mandiri (KMM) merupakan salah satu organ jejaring Dompet Dhuafa Social Enterprise (DDSE) yang bergerak dalam jasa program pengembangan komunitas, riset terapan untuk program-program pengembangan masyarakat/CSR, pengelolaan investasi dan produksi agribisnis, serta bisnis perdagangan hasil pertanian, peternakan, produk hasil pesisir dan UMKM.

Layanan

Artikel Terbaru

  • All Post
  • Agenda
  • Artikel
  • Berita
  • Branding
  • Development
  • English
  • Karir
  • Layanan
  • Leadership
  • Management
  • News
  • other
  • Profil
  • Profil Depan
  • Program
  • Studi kasus
  • Uncategorized
  • Video
    •   Back
    • Berita Pemberdayaan
    • Kisah Pemberdayaan
    • Khasanah
    • Kabar Mandiri
    • Program-Pedesaan
    • Program-Perkotaan
    • Program-Kerjasama CSR
    • Program-Pasca Bencana
    •   Back
    • Community Development
    •   Back
    • Program-Pedesaan
    • Program-Perkotaan
    • Program-Kerjasama CSR
    • Program-Pasca Bencana

Profil KMM

Membantu Perusahaan menciptakan Dampak Sosial yang Berkelanjutan melalui Program Pengembangan & Pemberdayaan Masyarakat

Ruko Zona Madina No. B-C Jl. Raya Parung – Bogor KM 42 Jampang Kec. Kemang, BOGOR 16310

Info @masyarakatmandiri.co.id
+62811 8888 7811

© 2016-2025  Created by Karya Masyarakat Mandiri

Scroll to Top