CIANJUR – Program pelatihan membatik bagi siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) tuna wicara telah sukses diselenggarakan di Kabupaten Cianjur. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pelaku UMKM lokal, khususnya Batik Dahlia-Genturan yang telah dikenal luas di Warungkondang, dengan berbagai pihak yang peduli terhadap inklusi sosial dan pelestarian budaya.
Program ini bertujuan untuk memberikan keterampilan membatik kepada siswa berkebutuhan khusus, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kepercayaan diri. Seni membatik yang diajarkan bukan hanya sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju kemandirian ekonomi dan pemberdayaan difabel.
Pelatihan membatik ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan dampak positif di masyarakat, khususnya dalam hal inklusi sosial. Dengan memberikan akses keterampilan kepada siswa SLB tuna wicara, program ini ingin memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berkembang, terlepas dari kondisi fisiknya.
Selama pelatihan, para siswa diajarkan teknik membatik tradisional, mulai dari proses pencantingan hingga pewarnaan. Mereka menghasilkan karya seni yang unik dan bernilai budaya tinggi, sekaligus memperkuat identitas lokal Cianjur melalui motif khas Batik Genturan.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peresmian aula Rumah Produksi Batik Dahlia-Genturan yang diresmikan langsung oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cianjur, Komarudin. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi pelatihan ini sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap warga Cianjur, khususnya pelajar SLB Bina Asih, dan mendorong agar kegiatan serupa terus berlanjut.
Pemilik Batik Dahlia-Genturan, Eliana Trisnawati, menyampaikan bahwa batik adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Setiap daerah memiliki corak dan filosofi yang berbeda, dan itulah yang harus dikenalkan kepada generasi muda. Ia berharap pelatihan ini dapat berkesinambungan dan menjadi wadah lahirnya pembatik tulis yang handal dari kalangan difabel.
Dengan semangat inklusi dan pelestarian budaya, pelatihan membatik ini menjadi bukti bahwa warisan budaya Indonesia dapat menjadi alat pemberdayaan yang kuat—terutama bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran akses dan kesempatan.





